Home Berita Utama Di Lebak, Proyek P3-TGAI Disorot

Di Lebak, Proyek P3-TGAI Disorot

798
SHARE
Dukungan penuh dari Orang tua Bagi Karier Jessica Mila

LEBAK - Proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air (P3-TGAI) Daerah Irigasi (DI) Bojongsari yang berlokasi di Kampung Bojongsari Desa Cimenga Kecamatan Cijaku Kabupaten Lebak disorot, lantaran dalam pelaksanaannya dinilai asal jadi.

Diketahui, program P3-TGAI ini didanai APBN 2020 melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau Ciujung Cidurian (C3) dengan anggaran Rp195 juta.

Berdasarkan informasi, di Kabupaten Lebak sendiri terdapat puluhan titik. Aktivis Pemuda Lebak selatan Eman Sudarmanto, mengungkapkan, dari hasil investigasi yang dilakukan, pihaknya menemukan sejumlah kejanggalan, baik itu dari bahan material yang digunakan juga dalam pelaksanaan pembangunan. Material seperti batu dan pengerjaan bangunan, menurut Eman diduga tidak sesuai dengan spesifikasi dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

"Batu yang digunakan memakai batu dari sekitar lokasi proyek yang tidak jelas harga dan kualitasnya. Kedua pasangan bangunan diduga asal-asalan dalam pelaksanaan pengerjaannya, selain terlambat, diduga kuat tidak sesuai spesifikasi dan RAB. Padahal anggarannya itu sampai ratusan juta," papar Eman kepada wartawan di Malingping, Minggu 19/7/2020.

Eman mengaku menyayangkan hal tersebut, lantaran dikhawatirkan program tersebut tidak memberikan manfaat yang maksimal kepada masyarakat, khususnya para petani.

"Kami sebenarnya sangat mengapresiasi dengan adanya program tersebut, hal ini dikarenakan program yang bersumber dari APBN ini bisa sampai ke daerah-daerah pelosok persawahan yang sangat terpencil. Namun jangan sampai pelaksanaan pembangunannya asal-asalan, sehingga manfaat program ini tidak maksimal," imbuhnya.

Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Desa Cimenga, Rohman tidak membantah jika material batu yang digunakan didapat dari lokasi sekitar, lantaran menurutnya, lokasi pembangunan irigasi yang dikerjakannya itu sulit dijangkau mobil pengangkut matrial. Selain itu Rohman pun mengakui bahwa ada keterlambatan dalam pelaksanaan bangunan tersebut.

"Memang pelaksanaan pekerjaan proyek ini kami menggunakan matrial batunya dari wilayah sekitar lokasi pekerjaan karena lokasi pekerjaan proyek ini sangat sulit dijangkau untuk mengangkut bahan matrial seperti pasir saja mau sampai sini harganya bisa 2 sampai 3 kali lipat. Karena setelah turun di jalan, matrial pasir tersebut harus di angkutin lagi ke lokasi proyek oleh pegawai. Dan untuk batu kita gunakan dari lahan milik warga sekitar itu juga kita beli kepada pemilik lahan," terang Rohman.

"Dan memang dalam pelaksanaan pekerjaan kami agak terlambat dan harus mengejar waktu, karena tadinya komunikasi dengan pihak program serta Kades desa cimenga tidak jelas," tukasnya (Red)