Home Berita Utama Jaga Marwah dan Budaya Daerah Tanpa Anarkisme, Para Tokoh Cilegon Bentuk FMPU

Jaga Marwah dan Budaya Daerah Tanpa Anarkisme, Para Tokoh Cilegon Bentuk FMPU

41
SHARE
Dukungan penuh dari Orang tua Bagi Karier Jessica Mila

CILEGON - Kelompok Forum Masyarakat Peduli Umat (FMPU) Kota Cilegon dibentuk sebagai wadah bagi para tokoh agama, masyarakat, pemuda atau masyarakat yang memiliki visi dan misi sama yaitu menjaga marwah serta budaya Kota Cilegon yang islami dari sejak dulu dengan tidak melakukan anarkisme terhadap segala kegiatan non-muslim.

Sekretaris FMPU Kota Cilegon, Faseh mengungkapkan, pembentukan struktural juga tidak terlepas dari alasan diatas, sehingga orang-orang yang kita tunjuk adalah orang-orang yang mempunya visi dan misi sepahaman. 

"Pada suatu waktu yaitu beberapa tahun kebelakang pernah terjadi pengeroyokan oleh masyarakat terhadap seorang pendeta yang coba melakukan gerakan untuk mengkordinir peribadatan suatu kelompok agama non-muslim, yang mana selain tindakan yang mulai meresahkan warga sekitar pendeta tersebut menggunakan bangunan sebagai tempat ibadah tetapi ijin nya adalah untuk sarana pendidikan sehingga menjadikan masyarakat sangat marah karena dari segi aturan sudah sangat menyalahi aturan yang sudah ada dan berlaku," paparnya, Rabu 20/5/2020.

"Nah, hal itulah yang menggerakan kita agar tidak terjadi kejadian serupa dimasa sekarang ataupun akan datang," imbuhnya.

Berbicara terhadap isue terkait adanya penolakan terhadap kegiatan peribadatan oleh umat kritistiani yang bernama “Ritual Rabu Abu”, menurut Faseh itu benar, akan tetapi FMPU tidak sama sekali melakukan tindakan secara pihak dan brutal. 

"Kita juga tahu kegiatan tersebut merupakan kegiatan tahunan dan baru tahun 2019 dilaksanakan di Kota Cilegon. Adanya penolakan bukan tanpa alasan, alasan yang sangat mendasar adalah tempat (Gedung Eks Mardiyuana) yang dijadikan pelaksanaan kegiatan tersebut sesuai dengan SK Bupati Serang Tahun 1969 yang masih berlaku, tertuang hanya untuk sarana serbaguna dan olahraga bukan untuk peribadatan," terangnya. 

"Bukti kita anarkis dan arogansi juga adalah kita tetap memperbolehkan umat krristiani melaksanakan kegiatan “Ritual Rabu Abu” dengan catatan kegiatan intinya saja yang dilaksanakan. Kita bersama Kepolisian Resor Cilegon bersama-sama mengawal kegiatan tersebut," tambah Faseh lagi.

Prinsip dari kelompok FMPU, lanjut Faseh, adalah bisa bertoleransi dalam segi bersosial tetapi bukan berarti menerima adanya tempat peribadatan berdiri di Kota Cilegon. "Karena itu sudah menjadi identitas Kota Cilegon yang telah disepakati oleh para sesepuh kami. Sehingga tugas kami adalah menjaga sejarah dan marwah tersebut." tukasnya (Red)




BERITA POPULER

Protes Jalan 'Rp5 M' Cepat Rusak, Warga Lebak Desak APH Mengusut Tuntas

LEBAK - Ruas jalan Jalan Lebak Siuh (Cijaku) - Pasar Kupa (Cigemblong) yang merupakan jalan kewenangan Pemkab Lebak kondisinya kian memprihatinkan...

Warisi Spirit Syekh Nawawi

Berbagi Di Tengah Keterbatasan

17 Lembaga Terima Hibah 4 Kali