Home Covid 19 Dapat Stigma Negatif di Tengah Beban Kerja, Nakes PKM Cipeundeuy Menangis

Dapat Stigma Negatif di Tengah Beban Kerja, Nakes PKM Cipeundeuy Menangis

2745
SHARE
Dukungan penuh dari Orang tua Bagi Karier Jessica Mila

LEBAK - Pasca adanya satu dokter Puskesmas Cipeundeuy Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak dikabarkan Positif terpapar virus Corona, sejumlah tenaga kesehatan (Nakes) di Puskesmas tersebut mengaku merasa dikucilkan oleh masyarakat di wilayahnya.

Diperoleh informasi dari Adel (30), suami dari salah seorang tenaga medis Puskesmas Cipeundeuy yang tinggal di Desa Kerta Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak. Menurut Adel, isterinya saat ini tengah murung dan kerap menangis lantaran dia merasa diasingkan oleh warga sekitar. Hal itu terjadi, diduga setelah adanya imbauan dari kepala desa setempat yang dinilai menimbulkan stigma negatif.

Baca Juga: https://poros.id/5590/dirawat-dokter-puskesmas-di-lebak-dikbarakan-terjangkit-corona.html

Dalam imbauan yang disampaikan Kades melalui Grup WA Desa, terang Adel, masyarakat diminta tidak kontak dengan para pegawai Puskesmas Cipeundeuy berikut keluarganya. Kades juga menyebutkan bahwa sejumlah tenaga medis itu pernah kontak dengan dr R (yang positif Corona) pada tanggal 12 April 2020.

Berikut imbauan Kades setempat Muhaemin yang disampaikan dalam Grup WA "Info Desa Kerta":

"Ass... Kpd rekan" harap hati" kontak langsung dgn bd (bidan) M, bd Y, H Y, dan R, H M, karna inpo y dokter d puskemas c pendey positip covid 19, seharus y mereka mengisolasi diri secra total karna mereka pernah kontak tgl 12 april dgn dokter R yg udh positip, harap lebih hati" lgi, mksh

Dokter R yang bertugas di Cipeundeuy adalah orang Depok, skrg d rawat d rmh sakit psr minggu Jakarta

D harp kpd rt pasr baru, rt tpos dan rt babakn hrp bs memberikn pemahmn kpd wrga yg d sebutkn yg tugas d puskesma c pendey utk mengisolasi diri dan tdk kontak dgn siaapapun ,dan rt jgn sampe kontak langsung dgn klrga tsb, kelurga y hrp d rmh utk mengisolasi diri,"

Imbauan ini, kata Adel, telah menimbulkan stigma negatif sehingga membuat warga di wilayahnya ketakutan. Akibatnya, kata Adel, istri dan dua temannya yang tinggal di wilayah tersebut merasa diasingkan.

Ia mengaku sangat menyayangkan dengan adanya imbauan yang seolah menyudutkan para tenaga medis itu, padahal menurutnya, tanpa ada imbauan itu pun, dirinya dan keluarga sudah mematuhi Protap Covid-19 dan melakukan social distancing smenjak pandemi ini berlangsung.

"Dampak dari imbauan itu sangat terasa. Istri saya selalu murung dan hanya bisa menangis karena merasa dirinya diasingkan. Istri saya dan rekan-rekannya merasa tidak nyaman dengan stigma negatif yang dikeluarkan oleh aparat desa terkait imbauannya itu," papar Adel melalui WA Messenger, Minggu 19/4/2020.

"Mereka tidak memikirkan dampak beban dan mental yang dirasakan oleh saya dan tenaga medis yang berada di wilayah Kerta yang bertugas di Pkm cipeundeuy. Informasi yg beredar di Masyarakat, kami kontak dngn dr. R tanggal 12 April. Sedangkan sesuai pengakuannya, dr R terakhir masuk kerja tanggal 11 April," imbuh Adel.

Adel berharap, ungkapannya ini dapat menjadi pelajaran untuk aparat desa Kerta juga yang lainnya, sehingga bisa lebih membaca dan mendengar imbauan dari WHO terkait Covid-19 ini, khususnya tentang stigma negatif. Dukungan dari masyarakat, menurutnya akan dapat menambah semangat para Nakes PKM Cipeundeuy yang saat ini masih tetap bekerja.

"Semoga istri saya bisa lebih tenang, karena untuk saat ini dia msih bekerja dan belum ada perintah untuk isolasi pegawai dari pihak Puskesmas dan Dinkes Lebak," katanya.

Kepala Desa Kerta Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak membenarkan adanya imbauan itu. Hal itu menurutnya, dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab dirinya selaku kades terhadap keselamatan warganya. Namun imbauan itu hanya untuk internal warga desanya yang disampaikan melalui WA grup.

Ia pun mengaku memaklumi dan menganggap wajar terkait apa yang tengah dirasakan oleh para tenaga medis saat ini. Hal ini menurutnya diakibatkan oleh kekhawatiran warga yang begitu besar dengan informasi yang menjelaskan keganasan virus Corona yang disiarkan di televisi, bukan semata-mata karena adanya imbauan dirinya.

"Pemerintah menginstruksikan ke semua Kades, agar apabila ada warga pendatang dari luar daerah Lebak diharuskan mengisolasi diri 14 hari. Kebetulan ada kejadian di Puskesmas Cipeundeuy, dan ada tiga warga desa saya yang bekerja di sana, maka wajar jika saya menyampaikan imbauan itu," kata Muhaemin.

"Dan menginstruksikan para RT agar memberikan pemahaman kepada nama nama tersebut untuk mengisolasi diri dulu, karena mereka tidak menutup kemungkinan, walaupun tidak kontak langsung dengan dokter R, tetapi bisa kontak dengan teman mereka yang sudah kontak dengan dokter itu," terangnya.

Terkait imbauannya itu, lanjut Muhaemin, pihaknya pun sudah berkoordinasi dengan Polsek setempat. "Saya juga sudah koordinasi dengan pihak Kapolsek dalam maslah ini, mereka apresiasi karena kita sudah tanggap cepat dalam rangka mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Muhaemin.

Sementara itu, Jubir Penanganan Covid-19 Kabupaten Lebak Firman Rahmatullah menilai bahwa narasi imbauan yang disampaikan oleh Kades Muhaemin itu menurutnya tidak pas, dan wajar ketika menimbulkan stigma negatif dari warga.

"Ini seperti yang pernah terjadi di Kalanganyar, warga menyuruh pindah atu mengusir, ini pernah terjadi. Jangan sampai terjadi lagi," katanya.

Yang perlu disampaikan oleh para kepala desa saat ini, lanjut Firman, adalah imbauan agar warga terus meningkatkan kewaspadaan dan menuruti anjuran pemerintah, seperti menjaga jarak, menjaga imunitas, tidak melakukan kerumunan dan memakai masker saat keluar rumah.

"Semua warga harus menggunakan masker kain walaupun sehat. Bila ada keperluan keluar rumah atau ketemu siapapun, termasuk bertemu tetangga sendiri pun harus pakai masker kain, karena harus kita anggap semua orang yang ada disekitar kita dimanapun adalah beresiko, apalagi di Malingping yang sudah ada faktor resiko dan mobilitas yang tinggi dari warganya," terang Firman. (Red01)