Home Politik 'Modal Dengkul', E-Warong BSP di Baksel Akui Dijatah Rp9.000/KPM oleh Supplier

'Modal Dengkul', E-Warong BSP di Baksel Akui Dijatah Rp9.000/KPM oleh Supplier

1462
SHARE
Dukungan penuh dari Orang tua Bagi Karier Jessica Mila

LEBAK - Sejumlah pemilik agen e-warong program Bantuan Sosial Pangan (BSP) di Lebak Selatan mengakui bahwa usahanya belum mandiri. Melainkan masih ketergantungan kepada perusahaan penyedia barang atau supplier.

Keuntungan yang didapat oleh e-warong dari penjualan sembako, yakni Rp9 ribu sampai Rp 13 ribu dari setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) BSP yang melakukan transaksi. Keuntungan itu ditentukan atau atas kebijakan supplier.

"Saya diberikan laba (keuntungan) oleh supplier Rp9 ribu dari setiap KPM yang melakukan transaksi. Ada sekitar 185 KPM yang melakukan transaksi di agen yang saya kelola," kata salah seorang pemilik e-warong di Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak, Senin 13/4/2020.

Baca Juga: https://poros.id/5563/e-warong-di-lebak-didorong-mandiri-tidak-ketergantungan-ke-supplier.html

Berbeda halnya dengan pemilik e-warong BSP di Kecamatan Cihara dan Kecamatan Malingping. Mereka mengaku diberikan keuntungan oleh supplier Rp13 ribu dari setiap KPM.

"Di desa saya ada sekitar 400 KPM. Karena ada dua agen e-warong, maka transaksi KPM terbagi. Yang transaksi di agen saya tiap bulan paling 40 sampai 60 KPM," kata pemilik e-warong di salah satu desa di Kecamatan Cihara.

"Saya juga dapat Rp13 ribu dari setiap KPM. Ada dua agen di desa kami. Yang transaksi di agen saya sekitar 250 KPM," kata pemilik e-warong di Kecamatan Malingping.

Sementara sistem pembayaran ke supplier, terang mereka, dibayar dari uang hasil penjualan ke KPM alias "jurus dagang modal dengkul". Prosesnya, saldo (uang) yang ada di "Kartu Sembako" milik KPM ditransaksikan melalui mesin EDC (Electronik Data Capture) yang disediakan di e-warong.

"Setelah semua KPM melakukan transaksi, baru kami bayarkan ke supplier," terangnya.

Sementara terkait kualitas barang, mereka memastikan bagus, hanya saja harga lebih mahal dibanding harga pasar, terutama harga beras. "Kalau harga telur dan daging ayam standar. Kalau beras agak mahal, Rp11.500/kilogram, kalau di pasaran beras seperti itu paling Rp10 ribu/kilogram." terangnya.

Asep saepudin, Legal Officer CV. Astan yang merupakan salah satu perusahaan penyuplai sembako ke e-warong saat dikonfirmasi belum merespons.

Sebelumnya, anggota DPRD Lebak Musa Weliansyah mendorong agar e-warong dapat mandiri, tidak ketergantungan pada supplier. Lantran saat ini kata Musa, agen e-warong di Kabupaten Lebak masih banyak yang sembakonya disuplai oleh Perum Bulog, PT. Aam dan CV. Astan.

"Sekarang ini agen dikasih keuntungan oleh supplier antara 8 ribu sampai 13 ribu per KPM. Sementara agen harus menjual komoditas diatas harga pasar dengan kualitas komoditas yang sangat buruk," kata Musa.

Musa memaparkan, saat ini beras yang dijual oleh para agen e-warong dengan harga eceran sebesar Rp 11.500 sampai Rp12.500 dan kualitas berasnya bukan premium. Padahal, harga di pasaran menurutnya, beras premium berkisar antara 10.500 sampai 10.700/kilogram.

Untuk itu, Musa berharap dalam penyediaan beras, agen e-warong dapat bekerjasama langsung dengan pemilik penggilingan yang ada di desanya, selain harga bisa lebih murah, kualitas beras bisa lebih bagus.

"Agen tidak harus dan tidak wajib bekerjasama dengan salah satu supplier," pungkasnya. (Red01)