Home Berita Utama E-Warong di Lebak Didorong Mandiri, Tidak Ketergantungan ke Supplier

E-Warong di Lebak Didorong Mandiri, Tidak Ketergantungan ke Supplier

565
SHARE
Dukungan penuh dari Orang tua Bagi Karier Jessica Mila

LEBAK - Anggota DPRD Kabupaten Lebak dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Musa Weliansyah berharap agen e-Warong mampu menyediakan sembako secara mandiri dan tidak bergantung pada supplier.

Diketahui, Elektronik Warung Gotong Royong yang selanjutnya disebut e-Warong, adalah agen bank, pedagang dan/atau pihak lain yang telah bekerja sama dengan Bank Penyalur dan ditentukan sebagai tempat pembelian Bahan Pangan oleh KPM, yaitu usaha mikro, kecil, dan koperasi, pasar tradisional, warung, toko kelontong, e-Warong KUBE, warung desa, Rumah Pangan Kita (RPK), Agen Laku Pandai, Agen Layanan Keuangan Digital (LKD) yang menjual bahan pangan, atau usaha eceran lainnya.

"Mandirinya e-Warong dalam penyediaan sembako, maka mata rantai penyediaan sembako ditingkat e-Warong menjadi lebih pendek," kata Musa kepada awak media, Lebak, Minggu 12/4/2020.

Ketika agen mandiri lanjut Musa. Maka, para agen bisa menjual dengan harga komoditas yang lebih murah dan sesuai harga pasar dengan kualitas terjamin. Selain itu, Keuntungan yang diperoleh agen pun akan jauh lebih besar daripada keuntungan yang diberikan oleh supplier. "Dengan adanya supplier harga sembako menjadi lebih mahal, diatas harga pasar," lanjutnya.

Musa memaparkan, bahwa berdasarkan hasil kunjungannya ke sejumlah e-Warong yang ada di Kabupaten Lebak. Pihaknya menemukan masih banyak para agen e-Warong  yang sembakonya disuplai oleh Perum Bulog, PT. Aam, CV. Astan.

"Sekarang ini agen dikasih keuntungan oleh supplier antara 8 ribu sampai 13 ribu per KPM. Sementara agen harus menjual komoditas diatas harga pasar dengan kualitas komoditas yang sangat buruk," ujarnya.

Kemudian, dicontohkan Musa, saat ini beras yang dijual oleh para agen merupakan hasil dari supplier dengan menjual dengan harga eceran sebesar Rp 11.500 sampai 12.500. Dengan konsekuensi beras tersebut dengan kualitas bukan premium. Padahal, harga di pasaran beras premium berkisar antara 10.500 sampai 10.700/Kg.

Untuk itu, Musa berharap dalam penyediaan beras, agen e-Warong tersebut bekerjasama langsung dengan pemilik penggilingan yang ada di desanya, selain harga bisa lebih murah, kualitas beras bisa lebih bagus. "Agen tidak harus dan tidak wajib bekerjasama dengan salah satu supplier," pungkasnya.

Sementara, Kepala Desa Bayah Barat Ridwan mengungkapkan agen e-Warong yang ada di wilayahnya diharapkan bisa mandiri dalam penyediaan sembakonya.

Menurut Ridwan, jika aturan penyediaan sembako agen boleh mandiri, maka pihaknya akan mendorong agar agen bisa mandiri. Hal itu didasari oleh banyaknya produsen beras di wilayahnya yang tidak dimanfaatkan secara maksimal.

"Saya sebagai ketua tim koordinasi program sembako ditingkat desa, sudah berkoordinasi dengan agen, bulan Mei ini, agen siap untuk mandiri," cetusnya. (Ris/Red02).




BERITA POPULER

Protes Jalan 'Rp5 M' Cepat Rusak, Warga Lebak Desak APH Mengusut Tuntas

LEBAK - Ruas jalan Jalan Lebak Siuh (Cijaku) - Pasar Kupa (Cigemblong) yang merupakan jalan kewenangan Pemkab Lebak kondisinya kian memprihatinkan...

Berbagi Di Tengah Keterbatasan

Warisi Spirit Syekh Nawawi