Home Berita Utama Aktivis Menduga DLHK Banten Sekongkol dengan PT Cemindo, Soal Pencemaran Lingkungan

Aktivis Menduga DLHK Banten Sekongkol dengan PT Cemindo, Soal Pencemaran Lingkungan

4397
SHARE
Dukungan penuh dari Orang tua Bagi Karier Jessica Mila

LEBAK - Aktivis Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan (AMPELA) Lebak, Furqan menduga Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten bersekongkol dengan pejabat pabrik semen merah putih PT Cemindo Gemilang soal pencemaran lingkungan.

DLHK, kata Furqan, diduga sengaja menutup-nutupi soal pencemaran lingkungan yang berasal dari PT Cemindo Gemilang. Hal tersebut terlihat dari pernyataan pihak DLHK Banten belum lama ini yang menyatakan bahwa PT Cemindo Gemilang tidak terbukti melakukan pencemaran lingkungan.

"Dari awal sejujurnya kami tidak percaya dengan Dinas LHK Banten akan objektif dalam menyelesaikan kasus dugaan tindak pidana pencemaran lingkungan oleh PT Cemindo Gemilang," kata Furqan kepada wartawan di Lebak Selatan, Senin 11/3/2019.

Ketidak objektifan DLHK Banten itu, lanjut Furqan, terkuak setelah mereka mengetahui hasil pemantauan yang dilakukan Tim Panitia Kerja (panja) limbah dan lingkungan hidup Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pekan kemarin. 

"Hasilnya ditemukan fakta bahwa PT Cemindo Gemilang membuang langsung air limbah ke sungai. Selain itu tim panja juga menemukan tidak adanya pusat pengelolaan air limbah untuk mengontrol apakah sudah sesuai standar baku mutu atau tidak," terangnya.

"Oleh karena itu kami menduga bahwa Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten telah menyebarkan berita bohong kepada publik," imbuhnya.

Sementara itu, Kasi Pengaduan dan Penegakan Hukum (DLHK) Banten Dr, Dendi saat dihubungi wartawan menampik hal tersebut. "Kita melihat dari aduan yang disampaikan kepada DLHK Provinsi Banten waktu itu pengaduannya sungai Cibayawak, ketika kami ke lapangan dengan LH Lebak memang tidak ada pencemaran air yang di adukan," ujarnya.

"Hanya PH airnya aja yang tinggi, karena hasil labnya seperti itu. Wajar karena daerah kapur, tidak ada hoax." tukas Dendi.

Sebelumnya, Tim Panitia Kerja (Panja) Limbah dan Lingkungan Hidup VII DPR RI mendapatkan beberapa temuan yang harus ditindaklanjuti oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), khususnya Direktoral Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) terkait pengolahaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Pabrik Semen di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. [Eag/Red]