Home Berita Utama Syafrudin-Subadri Diprediksi Tak Optimal Pimpin Kota Serang

Syafrudin-Subadri Diprediksi Tak Optimal Pimpin Kota Serang

936
SHARE
Dukungan penuh dari Orang tua Bagi Karier Jessica Mila

SERANG - Dilantiknya pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Serang Syafrudin-Subadri Ushuludin periode 2018-2013, mendapatkan sorotan dari berbagai elemen masyarakat Kota Serang salah satunya Kaum Miskin Kota Serang (Kamis Koser). 

Ketua Kamis Koser, Furqon Hakim menilai, pasangan calon yang diusung PPP, PAN, PKS, dan Partai Hanura ini tidak akan optimal dalam menjalankan roda pemerintahan pada tahun pertama, hal itu berdasarkan tiga analisa yang dilakukan dirinya. 

Ketiga analisa itu yakni, Pertama, dalam catatan Panwaslu Kota Serang saat itu terjadi 11 kasus dugaan praktek pidana pemilu berupa politik uang yang dilakukan oleh para kandidat. Temuan itu sejalan dengan hasil riset yang dilakukan KPU Kota Serang bekerjasama dengan LPPM Untirta yang menemukan fakta bahwa 45,6 persen warga pemilih saat itu mengakui terpengaruh oleh politik uang dalam menentukan pilihan pada pilkada.

"Ini jelas sebuah kemunduran demokrasi. Secara politik, dosa pilkada itu akan terus membayangi pemerintahan Syafrudin-Subadri," Kata Ketua Kamis Koser, Furqon Hakim, Rabu 5/12/2018.

Kedua, pasca ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih oleh KPU Kota Serang akhir pada Juli 2018, diketahui pasangan calon dengan jargon Aje Kendor membentuk Tim Transisi, yang berisi akademisi, tokoh masyarakat, dan politisi. Mereka bertugas mengawal program kerja Syafrudin-Subadri masuk dalam APBD Perubahan 2018 sekaligus APBD murni 2019.

"Faktanya mengejutkan. Selain tidak mampu mengawal anggaran, akibat birokrasi yang masih loyal kepada kepala daerah terdahulu, Tim Transisi juga menjalankan fungsi sebagai makelar proyek dan jabatan. Mereka mulai membagi setiap SKPD menjadi siapa dan untuk apa. Mereka mulai memetakan jabatan kepala SKPD tertentu diisi siapa, orangnya siapa. Belum lagi santer terdengar kabar, ada campur tangan keluarga besar pasangan calon dalam Tim Transisi dimaksud," ungkapnya. 

Ketiga, Syafruddin yang meleburkan diri menjadi PAN tentu terikat komitmen mengusung duet capres cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sementara Subadri yang kini menjelma menjadi tokoh PPP tentu akan sekuat tenaga memenangkan capres cawapres nomor urut 1, Joko Widodo-KH Maruf Amin.

"Pilihan politik yang berbeda antara Walikota dan Wakil Walikota tersebut jelas akan berdampak serius dan sistemik terhadap roda birokrasi. Soliditas dan sinergi antar keduanya akan diuji diantara konsentrasi menjalankan percepatan pembangunan daerah, dengan tarik-menarik kepentingan politik nasional," tegasnya. [Red]