Home Pemerintahan Nama Multatuli Diagungkan, Kumala Mengecam

Nama Multatuli Diagungkan, Kumala Mengecam

910
SHARE
Dukungan penuh dari Orang tua Bagi Karier Jessica Mila

LEBAK -  Festival seni multatuli (FSM) tahun 2018 telah resmi di tutup tadi malam dengan penampilan beberapa musisi salah satunya band lokal dari KPJ Rangkasbitung, FSM itu sendiri mulai di gelar selama empat hari terhitung dari tanggal 6-9 september 2018 dengan berbagai agenda pameran dan seni. 

Ada yang menarik pada siang menjelang sore hari pertama FSM itu sendiri, ada dua tenda yang roboh karena kebetulan diterpa angin dan hujan yang lumayan deras mengguyur wilayah rangkasbitung dan sekitarnya tepat pada pukul 16.00 wib, dan ada 300 buku mulai terdiri dari sejarah, sastra, dan budaya hampir semua buku basah dalam peristiwa tersebut hanya sisa sedikit buku yang masih terbungkus oleh plastik yang selamat.

Kondisi tersebut banyak orang yang mempertanyakan tentang kejadian menimpa rangkasbitung saat itu.

Maka dari itu keluarga mahasiswa lebak (KUMALA) mengecam pada generasi milenial utamanya yang turut serta mengagungkan nama Multatuli yang diambil dari sebuah pena Eduard Douwes Dekker, beliau adalah seorang pria yang berkelahiran amsterdam 2 maret 1820 yang pernah menjabat sebagai asisten Wedana Lebak.

Yang dinilai oleh aktivis keluarga Mahasiswa Lebak (KUMALA) sebagai seorang penjajah.

"Kami sudah beberapa kali aksi turun ke jalan untuk dapat menyuarakan tentang perjuangan di masa lalu yang pernah di goreskan tokoh pergerakan yang asli pribumi, kenapa tidak kita abadikan namanya sebagai balas tanda jasa meskipun itu tak dapat membalas jasa pahlawan yang kini telah gugur setelah berjuang di medan perang bersama melawan penjajah di masa lalu," Ujar Ketua Umum KUMALA, Maman Maulani. kepada Poros.id, Senin (10/9/2018).

Maman Maulani Melanjutkan, Maka dari itu kami juga berharap kepada generasi milenial saat ini jangan hanya terpaku oleh acara yang megah yang harus banyak lagi membaca dan mengkaji fungsi sejarah karena beliau (multatuli) sebatas pandai dalam literasi juga menulis atau sastra salah satu karyanya tertuang dalam buku Max Havelaar tak mengubah statusnya sebagai seorang penjajah yang memanfaatkan situasi geografis juga rakyat lebak pada masa lalu.

Hal senada di utarakan juga oleh tokoh pergerakan dan muhammadiyah H.Hasan Alaydrus

"Saya terkadang heran dan bingung pada pemerintah saat ini, sudah jelas dia itu penjajah kenapa mesti di besarkan ? Karena saya tahu dan merasakan pada saat penjajahan itu makanya generasi saat ini mesti tahu dan sadar juga harus melek akan sejarah bukan sekedar menjadi generasi penikmat dan penghancur," Terang H.Hasan Alaydrus Sebagai Salah Seorang Tokoh Pergerakan Pada Masanya.

"Biarkan saja pemerintah lebak tidak mau mendengarkan apa yang sudah di suarakan tentang sejarah, namun mari kita bangun dan siapkan generasi saat ini yang di sebut milenial agar melek dan faham akan sejarah karena sesekali kita ada saat ini jelmaan dari masa lalu yang di katakan melalui sejarah," tukasnya [Eza]