NEWS UPDATE

Polda Banten Ungkap Kasus Jual Beli Benur Lobster di Binuangeun, Dua Orang Diamankan

";
Polda Banten Ungkap Kasus Jual Beli Benur Lobster di Binuangeun, Dua Orang Diamankan
Ditreskrimsus Polda Banten menggelar saat press release, Jumat, 13/04/2018

POROS.ID, SERANG - Jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten mengamankan dua orang pelaku illegal fishing asal Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, salah seorangnya diduga sebagai pengepul benur lobster. Kedua orang pelaku berinisial W dan UY itu diciduk Polisi di dua tempat yang berbeda pada Kamis, 12/04/2018 kemarin.

W diamankan di Kampung Setra Timur, RT 16/14 Desa Muara Binuangeun, Kecamatan Wanasalam sekitar pukul 15.00 WIB, sementara UY diamankan di Kampung Tanjung Panto RT 17/05, Desa Muara Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, sekitar pukul 15.30 WIB.

Selain mengamankan W dan UY, polisi pun mengamankan 10.312 benih Lobster jenis pasir, 61 Benur jenis mutiara, dua buah sterofom, dua buah tabung oksigen berikut selang, 38 buah toples plastik, 2 buah piring beling, satu buah piring plastik, dua buah baskom pelastik, 4 tempat blower angin, satu buah cangkir plastik, 29 buah toples plastik, dua buah telepon genggam dan uang tunai sebanyak Rp7.450.0000.

Direskrimsus Polda Banten, Kombes Pol Abdul Karim, mengungkapkan, modus operandi Kedua orang pelaku ini adalah melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran ikan yang tidak memiliki SIUP.

Keduanya diduga melanggar pasal 92 UU RI No 31 Tahun 2004 tentang perikanan yang telah di ubah dengan UU RI no 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU RI no 31 Tahun 2004 tentang perikanan.

"Pada pasal 92 berbunyi, setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan di wilayah Republik Indonesia melakukan usaha  perikanan di bidang penangkapan, pembudidayan, pengangkutan, pengolahan dan pemasaran ikan, yang tidak memiliki SIUP sebagaimana yang dimaksud dengan pasal 26 ayat 1, dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 tahun dan denda paling banyak  Rp1,5 miliar," paparnya

Menurut Abdul Karim, saat ini pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap dua pelaku lainnya yang sudah ditetapkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

"W melakukan pembelian benih lobster dari nelayan dan dijual kembalai kepada saudara B yang saat ini menjadi DPO. Sementara UY melakukan pengangkutan dan penjualan benih lobster milik U, yang juga masih DPO," terangnya.

Ia mengatakan bahwa wilayah Lebak Selatan merupakan daerah paling rawan

kegiatan perikanan yang tidak sah alias ilegal. "Daerah Lebak Selatan ini memang yang paling rawan ilegal fishing." tukasnya [Rudi/Red]




Komentar Via facebook