NEWS UPDATE

Dianiaya Kakak Kelas, Siswa SMAN 5 Kota Serang Jalani Operasi

";
Dianiaya Kakak Kelas, Siswa SMAN 5 Kota Serang Jalani Operasi
Akmal didampingi sang Ibu usai menjalani operasi belum lama ini (Ist.)

POROS.ID, SERANG - Akmal Miftahul Huda (16), siswa kelas 2 SMA Negeri 5 Kota Serang, tulang jidatnya pecah setelah dipukul oleh kakak kelasnya sendiri, M Zulfakar, dengan menggunakan benda keras, diduga coran semen yang dibungkus plastik warna hitam pada Senin, 23/10, bulan lalu. Pada hari itu juga Akmal dilarikan ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan perawatan.

Diceritakan Eni (48), Ibu korban, penganiayaan bermula saat anaknya yang merupakan salah seorang anggota OSIS Bidang Komisi Disiplin (Komdis) itu, menegur pelaku agar mengikuti acara bendera. Mendapatkan teguran dari adik kelasnya itu, pelaku Zulfakar diduga tidak terima dan mengancam Akmal. 

Rupanya ancaman Zulfakar tak main-main, selepas upacara bendera, Akmal didatangi Zulfakar dan dua orang temannya di depan kelasnya. Pengeroyokan terhadap Akmal pun terjadi, salah seorang yang diduga kuat Zulfakar menghantam bagian depan kepala Akmal dengan menggunakan benda keras yang dibungkus plastik.

Seketika itu, Akmal pun terjatuh dan nyaris tak sadarkan diri. "Ditegur sama Akmal suruh upacara, dia malah marah dan mengancam. Pas mau masuk kelas, Akmal dikeroyok tiga orang, jidatnya dipukul pakai benda keras," papar Eni, ditemui awak media, di rumahnya di Gerya Lopang Indah,  Kota Serang, Rabu, 08/11/2017.

Saat ini, lanjut Eni, anaknya itu hanya terbaring lemah dirumah, usai menjalani operasi jidatnya yang pecah. "Belum bisa sekolah, masih lemas, kata dokter sih tinggal menunggu pemulihan, seminggu sekali melakukan kontrol. Biaya operasi hampir Rp80 jutaan, uang muka saja waktu itu Rp40 juta," ujarnya

Namun demikian, kata Eni, meski sudah melakukan kesepakatan bersama, pihak keluarga pelaku Zulfakar hingga kini belum memberikan bantuan untuk pengobatan Akmal. Eni pun mengaku tak mau ambil risiko, demi kesembuhan anak kesayangannya itu, dia terpaksa menggadaikan rumah yang ditinggalinya itu ke Bank.

"Keluarga pelaku ngasih Rp3 juta, tetapi tidak kita ambil. Dari sekolah ada, cuma masih jauh dari cukup, Rp5 juta. Untuk kesembuhan anak, apa pun saya lakukan, termasuk menggadaikan rumah ini," kata Eni

Eni pun mengaku bahwa pihak keluarganya telah melakukan pelaporan terkait insiden yang menimpa anaknya itu ke Polres Serang pada 28 Oktober 2017 lalu. Hingga berita ini dilansir, wartawan masih berusaha untuk mendapatkan konfirmasi dari pihak sekolah dan Polres Serang. (Yong/Red)

 



Komentar Via facebook